Sabtu, 28 Desember 2013

Kanker ovarium

Kanker ovarium atau kanker indung telur rata-rata ditemukan pada wanita berusia di atas 50 tahun. Kelainan genetik dan kromosom mempengaruhi terjadinya kanker ovarium.
Kanker ovarium adalah sebuah penyakit sel tumor ganas didalam ovarium wanita. Merupakan salah satu tumor yang paling sering ditemukan pada organ reproduksi wanita. Dikarenakan jaringan di dalam ovarium dan kompleksitas fungsi endokrin, sulit mendeteksi apakah tumor tersebut jinak atau ganas. Saat diagnosis, mayoritas sel kanker sudah menyebar ke organ disekitarnya.
  Tingkat kematian tumor ganas ovarium menduduki urutan pertama pada onkologi ginekologi. Sudah menjadi ancaman serius buat kehidupan dan kesehatan para kaum wanita. Setelah ditemukan adanya kanker ovarium, sekitar 2/3 diantaranya sudah memasuki stadium lanjut. Oleh karena itu tingkat kelangsungan hidup dalam waktu lima tahun hanya tinggal 20%-30%. Setelah timbul penyakit, sedikit yang bisa hidup sampai 3 tahun. Semakin tua usianya, tingkat kematian kanker ovarium juga semakin tinggi.
  Namun masih ada harapan seperti, semakin cepat terdeteksi kanker ovarium dan menggunakan teknik pengobatan yang maju akan mendapatkan hasil pengobatan yang efektif, memperpanjang kehidupan wanita dan meningkatkan kualitas hidup.
Neoplasma ovarium
Secara keseluruhan mayoritas massa ovarium bersifat jinak dan memiliki risiko seumur hidup untuk berkembang menjadi kanker ovarium sebesar 2%. Usia merupakan factor yang paling penting dalam menentukan risiko keganasan. Massa adneksa sering ditemukan selama usia reproduksi, selama tahap kehidupan ini. Masaa tersebut biasanya disebabkan oleh kista ovarium fungsional, neoplasma ovarium jinak, atau perubahan pascainfeksi pada tuba fallopii, pada anak perempuan yang berusia dibawah 20 tahun dan wanita diatas 50 tahun. 10% massa yang teraba bersifat ganas. Sekitar 85-90% kanker ovarium terjadi pada wanita pascamenopouse.
Neoplasma ovarium jinak
Berbagai neoplasma ovarium baik jinak maupun ganas dapat berasal dari setiap jenis sel yang terdapat di dalam ovarium. Kista sederhana dapat bersifat fungsional dan terbentuk pada lokasi ovulasi atau selam perkembangan korpus luteum. Kista ini sangat banyak ditemukan dan dapat dibedakan dari neoplasma sejati berdasarkan riwayat alami perubahan sel. Biasanya kisat-kista ini menghilang dalam 6 minggu setelah ditemukan. Massa yang kompleks atau padat dan menetap cenderung merupakan neoplasma sejati dan membutuhkan diagnosis secara histology. Sebagai besar neoplasma ovarium jinak bukan merupakan lesi premaligna dan tidak akan berlajut menjadi kanker yang invasif. Oleh karena itu, skrining yang teliti dan pengangkatan tumor-tumor jinak dan peralihan pada ovarium selama 20 tahun terakhir tidak menurunkan insidensi kanker ovarium.
FAKTOR RISIKO
Wanita yang berisiko tinggi terkena kanker ovarium yaitu
wanita postmenopause ( usia > 50 tahun ).
Wanita dengan riwayat kanker ovarium dalam keluarga, risikonya 18 kali lebih besar daripada wanita yang tidak ada riwayat kanker ovarium dalam keluarga.
 Factor reproduksi
Factor genetic
Prognosis
Prognosis dari tumor ovarium tergantung dari beberapa hal :
Stadium
Jenis histologinya
Derajat diferensiasi
Residu tumor
Free disease interval
Penyebab kanker ovarium
1.    Faktor lingkungan : tingkat kejadian kanker ovarium lebih tinggi di negara industri yang berkembang dan wanita dilapisan masyarakat atas, kemungkinan berhubungan dengan pola makan yang tinggi kolesterol. Selain itu, radiasi komputer, asbes dan talek dapat meningkatkan resiko terkena kanker ovarium. Merokok dan kurangnya vitamin A,C,E juga ada kaitannya.

  2. Faktor endokrin : kanker ovarium lebih banyak terjadi pada nulipara atau wanita steril. Kehamilan tampaknya memiliki efek melawan kanker ovarium. Menurut kedokteran, ovulasi yang setiap hari menyebabkan epitel ovarium rusak berulang kali, ada hubungannya dengan kanker ovarium. Selain itu, kanker payudara, kanker endometrium dan kanker ovarium mudah terjadi bersamaan. Ketiga penyakit ini mempunyai sifat ketergantungan terhadap endokrin.
  3. Faktor genetik dan keluarga : sekitar 20%-25% pasien kanker ovarium anggota keluarganya mengidap kanker.
Stadium
Tingkat penyebaran
Tingkat rata-rata kelangsungan hidup dalam 5 tahun
  Stadium I perbatasan ovarium dan tumor, termasuk kanker ovarium stadium awal 90%
  Stadium II lesi tumor pada satu atau kedua ovarium, metastasis pada panggul 70%
  Stadium III lesi tumor pada satu atau kedua ovarium, metastasis panggul atau bagian dalam abdomen atau retroperitoneal 60%
  Stadium IV metastasis lokal jauh, metastasis paru-paru 17%
   Stadium kanker ovarium pada metode pengobatan dan hasilnya memiliki makna yang berarti. Letak, ukuran, ada tidaknya kecenderungan penyebaran akan mempengaruhi dokter dalam menentukan metode pengobatan. Selain itu, faktor umur, masih tidaknya masa menstruasi dan kondisi kesehatan juga akan mempengaruhi metode pengobatan dan prognosis
GEJALA
Gejala awal jarang ditemukan
1. Pada stadium dini terkadang merasa tidak enak di perut bagian bawah atau merasa menurun dan sakit di satu sisi pada perut bagian bawah.
2. Merasa perut mengembung, karena tumor bertumbuh dengan cepat maka diwaktu yang singkat akan terasa perut kembung, benjolan di perut dan asites. Tumor yang kecil pada saat pemeriksaan pelvik baru dapat terdeteksi, disaat benjolan terus bertumbuh besar melewati pelvik, benjolan di perut baru dapat teraba.
3. Gejala tertekan, disaat tumor infiltrasi ke jaringan di sekitar atau menekan saraf, dapat menimbulkan sakit perut, sakit pinggang atau sakit linu panggul; apabila menekan pembuluh darah vena pelvik, bisa timbul bengkak pada kaki; tumor dengan ukuran besar dapat menekan kandung kemih, menimbulkan gejala sering kencing, kesulitan kencing, retensi urin; menekan rektum akan kesulitan buang air besar; menekan lambung dan usus akan timbul gejala pencernaan; menekan diafragma akan kesulitan bernapas, tidak dapat tidur terlentang.
4. Karena pertumbuhan tumor sangat cepat, maka akan timbul gejala malnutrisi dan badan kurus, menyebabkan cachexia
5. Gejala yang berkaitan dengan adanya metastase kanker, kanker ganas ovarium jarang ada gejala rasa sakit, apabila terjadi kebocoran tumor, pendarahan atau infeksi atau karena infiltrasi menekan organ di sekitarnya dapat menimbulkan sakit perut, sakit pinggang.
6. Apabila bilateral ovarium semuanya rusak oleh jaringan tumor, bisa menimbulkan gangguan menstruasi dan amenore; metastase ke paru-paru akan timbul batuk, batuk berdarah, efusi pleura; metastase ke tulang dapat menyebabkan rasa sakit di area metastase; metastase ke usus dapat menimbulkan darah tinja, yang terberat dapat menimbulkan obstruksi usus.
7. Apabila berupa fungsional tumor, dapat menimbulkan gejala yang berkaitan dengan hormon estrogen atau hormon androgen yang berlebihan. Misalnya : menimbulkan disfungsional awal pendarahan uterus, pendarahan vagina pasca menopause atau timbul tanda-tanda maskulin. Pasien kanker ovarium stadium lanjut timbul gejala badan kurus yang nyata, anemia berat dan tanda cachexia lainnya. Pada saat pemeriksaan ginekologi dapat teraba nodul keras yang tersebar di forniks posterior, benjolan kebanyakan terdapat didua sisi. substantive, permukaan yang tidak rata, tidak dapat digerakkan, sering terkait dengan adanya asites darah. Terkadang dapat teraba kelenjar getah bening membesar di pangkal paha, di bawah ketiak atau di atas tulang belikat.
Tanda kanker ovarium
Massa tumor di pelvic , tumor memiliki bagian padat ,ireguler dan terfiksir ke dinding panggul , bila tanda tanda tersebut ada maka keganasan perlu di curigai.
Meskipun teknologi diagnosis kanker ovarium berkembang terus, tetapi pemeriksaan forniks posterior pap pipet, pemeriksaan cairan rahim dari penusukan kantong rektum dan pemeriksaan sitologi cairan asites masih merupakan metode diagnosa yang sederhana, mudah, dan cepat. Untuk kasus kanker ovarium yang mencurigakan, laparoskopi dan pemeriksaan histologis dapat segera mengkonfirmasikan diagnosis. Pemeriksaan pencitraan, khususnya USG transvagina memberikan kontribusi untuk diagnosis kualitatif pada batas dan struktur internal dari kanker ovarium dini. Pemeriksaan endokrin membantu mendiagnosis tumor ovarium stromal dan kanker ovarium dengan beberapa bagian yang disertai sindrom endokrin ektopik. Pemeriksaan tumor marker dalam serum sangat sensitif untuk mendeteksi tumor ovarium ganas, namun spesifisitasnya kurang, sehingga tidak bisa hanya mengandalkan satu imunologi tes untuk menentukan jenisnya. Tapi berbagai deteksi bersama penanda tumor dapat meningkatkan keandalan diagnosis kualitatif.
PENGOBATAN
Pengobatan kanker ovarium dengan operasi
   Secara umumnya, operasi pembedahan adalah cara utama dalam pengobatan kanker ovarium, akan tetapi dengan operasi masih belum bisa membersihkan secara tuntas lesi yang sangat kecil di dalam tubuh pasien kanker ovarium, oleh karena itu dapat timbul metastasis dan kekambuhan setelah operasi
  
Pengobatan kanker ovarium dengan radioterapi
   Menurut type jaringan yang berbeda pada kanker ovarium, maka tingkat kepekaan terhadap radioterapi juga berbeda, dysgerminoma paling peka terhadap radioterapi, granulosa sel tumor memiliki kepekaan sedang, epitel tumor juga memiliki tingkat kepekaan tertentu; penyinaran setelah operasi diutamakan terhadap lesi tumor yang masih tersisa di rongga perut; pasien yang masih ada tersisa lesi tumor kecil tetapi tidak terjadi adhesi di rongga perut dapat melakukan perfusi radionuklida pada saat 7-14 hari setelah operasi.
  
Pengobatan kanker ovarium dengan kemoterapi
   Pengobatan kanker ovarium dengan kemoterapi merupakan pengobatan bantuan yang utama untuk kanker ovarium. estimasi operasi pengangkatan tumor yang sulit, maka sebelum operasi terlebih dahulu dilakukan kemoterapi sebanyak 1-2 kali, dapat meningkatkan efektifitas operasi pengangkatan. Kemoterapi setelah operasi dapat mencegah kambuh; bagi operasi pengangkatan yang tidak bersih, dengan kemoterapi memperoleh penangguhan sementara bahkan dapat memperpanjang jangka hidup; bagi yang tidak dapat dilakukan operasi pengangkatan, kemoterapi dapat membuat tumor mengecil, mudah digerakkan, menciptakan kondisi untuk operasi lagi.
Contoh  data anamesis pada kasus Ca ovarium
Nama  : Ny. K
Umur   : 65 tahun
Agama  : Islam
Pekerjaan     :  Ibu rumah tangga
Alamat   :  jln bumi arsri no 27 ciloto Cianjur
Masuk IGD   : 22 januari 2011 ,pukul 15.10 WIB
Anamnesis (autoanamnesis ,22 januari 2011)
Keluhan utama   : perut membesar
Keluhan tambahan   : nyeri perut, pendarahan dari      jalan lahir
Riwayat penyakit sekarang
Pasien dari RSUD  Cianjur dengan keluhan 4 hari yang lalu , di seluruh bagian vagina sampai perut merasa  seperti  di tusuk tusuk dan perut mulai membesar sejak tiga bulan yang lalu, dan sering keluar darah di jalan lahir , darah berwarna merah segar  volume 1. Riwayat nyeri saat berhubungan (), riwayat  keputihan (),  mual (+) . tidak muntah , tidak ada nafsu makan , buang air besar sedkit dan tidak lancar , px masih bisa kentut , buang air kecil tidak ada keluhan.
Riwayat haid
Px menarche umur 10 tahun, teratur satu kali dalam setiap bulannya , lamanya 7 hari dalam satu hari px ganti pembalut 1-2 kali, menopause umur 58 tahun


Riwayat pernikahan
satu kali, lamanya 33 tahun
Riwayat KB
px tidak pernah menggunakan KB
pemeriksaan fisik
KU/KES   :Px tampak lemah / composmentis
Tanda vital  :
Tekanan darah   : 160/100 mmHg
Respiration rate : 22 X / menit , regular
Nadi   : 90X / menit
Suhu   : 370C
Thorax
Pulmo
Inspeksi   : gerakan nafas simetris, retraksi –
Palpasi   : gerak nafas simetris , VF paru kanan – kiri sama
Perkusi   : redup di kedua lapang paru
Auskultasi  : suara dasar vesicular melemah bilateral , RBH -/-      RBK-/, wheezing/-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar